Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei saat menerima kunjungan anggota Majles Khobregan (Dewan Pakar Kepemimpinan) mengisyaratkan KTT GNB ke-16 yang digelar di Tehran baru-baru ini. Beliau mengatakan, musuh bangsa Iran dengan kedunguannya mengubah KTT ini menjadi perang diplomasi dengan Tehran dan hasilnya adalah kekalahan memalukan yang harus mereka terima.
Seperti dilaporkan Mehrnews, Rahbar Kamis pagi (6/9) saat menerima kunjungan ketua dan anggota Dewan Pakar Kepemimpinan menilai kondisi negara secara keseluruhan dalam kondisi baik dan kemajuan terus berjalan. Seraya mengisyaratkan KTT GNB ke-16 di Tehran, Rahbar menyebutnya sebagai pameran kekuatan, keagungan dan kebesaran Republik Islam Iran.
Rahbar menegaskan pentingnya sebuah kesimpulan tepat dan rasional atas kondisi nasional dan menambahkan, analisa berbagai masalah dari berbagai sudut, mengindikasikan kondisi normal negara guna menunjukkan keagungan Islam.
Ayatullah Khamenei mengingatkan, penggelaran KTT GNB ke-16 dengan sukses di Tehran merupakan salah satu contoh dari kondisi memuaskan serta kesiapan ideologi yang diberikan Republik Islam kepada dunia.
Beliau menilai penggelaran KTT GNB Tehran dari segala sudut menjadi pameran kekuatan, keagungan dan kebesaran Iran. "Sumber dari kebesaran dan keagungan ini adalah ideologi yang diciptakan Imam Khomeini di Iran dengan mengadopsi nilai-nilai Islam serta yang beliau kembangkan," tegas Rahbar.
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran menambahkan, KTT GNB di Tehran dapat digelar secara biasa seperti sidang-sidang internasional lainnya, namun kondisi politik dunia dan tempat serta waktu penyelenggaraan sidang dan kedunguan musuh-musuh Iran membuat sidang ini menjadi fenomena yang sangat berpengaruh di dunia. Selain itu, kedunguan musuh telah menjadikan KTT tersebut sebagai perang diplomasi dengan Iran.
"Ada upaya dan agitasi yang memaksa Iran untuk mensensor KTT GNB ini dan tidak mengumumkan sikapnya khususnya mengenai kebijakan anti Israel, namun sidang ternyata berjalan lancar dan penuh kejutan sehingga usaha ini pun kandas," ungkap Rahbar.
Rahbar menyebut partisipasi dua pertiga negara dunia di KTT GNB Tehran dan peluang untuk mengemukakan sikap, di mana kesempatan ini tidak terwujud di sidang internasional lainnya, merupakan poin penting lain dari sidang Tehran. Menurut Rahbar, sikap yang ditunjukkan sejumlah pemimpin negara dan delegasi yang hadir di KTT Tehran, khususnya kritik terhadap struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan serta kediktatoran yang menguasai percaturan global tidak pernah ditemukan di sidang internasional lainnya.
Hasil lain dari KTT GNB Tehran adalah gagalnya propaganda terkait sanksi anti Iran. Menurut beliau, para pemimpin negara dan delegasi di KTT GNB Tehran dari dekat menyaksikan kehidupan normal dan keceriaan rakyat di ibukota dan kota-kota lain Iran. Di sela-sela KTT para pemimpin dan delegasi negara dunia juga melakukan lobi dengan para petinggi Iran terkait berbagai kontrak bilateral.
Seraya menekankan hasil dari perang diplomasi dengan Iran adalah kekalahan memalukan musuh, Rahbar mengingatkan, keberhasilan, keagungan dan kebesaran KTT Tehran memaksa musuh dan medianya mengakui realita.
Rahbar juga mengisyaratkan berbagai tajuk yang dimuat sejumlah media Barat mengatakan, berdasarkan prinsip-prinsip al-Quran, setiap pekerjaan yang membuat musuh geram terhitung perbuatan baik dan amal saleh, oleh karena itu, penyelenggaraan besar-besaran KTT GNB Tehran juga termasuk amal saleh.
Beliau menekankan, di berbagai masalah seperti isu internal kita harus berhati-hati agar "mughalatoh" (kesesatan berfikir) tidak membuat kita tergelincir dalam kesalahan dalam menganalisa. "Analisa saya dari kondisi negara saat ini adalah secara global negara tengah mengalami kemajuan yang cukup," ungkap Rahbar.
Ayatullah Khamenei menekankan, mungkin saja di sejumlah masalah pelaksanaan dan ideologi, terdapat titik kelemahan, namun analisa dari kondisi negara saat ini diambil dengan mengacu pada poin-poin kuat dan kemajuan serta titik-titik kelemahan.
Di awal pertemuan Ketua Majles Khobregan, Ayatullah Mahdavi Kani menjelaskan pentingnya berbagai isu yang dibahas di sidang ke-12 Dewan Pakar Kepemimpinan. Ayatullah Mahdavi Kani mengatakan, sidang Dewan Pakar Kepemimpinan dari segi kwalitas dan kwantitas sangat penting karena ulama berpengaruh dari seluruh negara hadir dan mengemukakan pendapatnya mengenai berbagai masalah politik, ekonomi, budaya dan internasional.
Ayatullah Mohammad Yazdi, wakil ketua Majles Khobregan di kesempatan tersebut membacakan poin-poin penting hasil sidang. Poin-poin tersebut meliputi, penghargaan atas keberhasilan penyelenggaraan KTT GNB ke-16 di Tehran, penekanan rekonstruksi secepatnya wilayah yang dilanda gempa di Provinsi Azerbaijan timur, ekonomi resistensi dan kondisi perekonomian nasional, masalah budaya dan sosial termasuk hijab dan isu krisis Suriah.